// you’re reading...

Catatan Ringan

Tempe Naik Daun

Banyak cerita menarik tentang kehidupan “tempe” ini. Bermula dari metamorphosis (baca: kelahiran) dari kedelai menjadi tempe, hingga masa depan tempe yang bermacam-macam: bacem, kering, juga keripik.

Tempe yang merupakan makanan rakyat Indonesia, khususnya di Jawa, dari dulu menjadi si bebek buruk rupa dan bahan cemoohan. Bermacam-macam frasa kalau ada kata tempe di dalamnya pasti membuat kita berfikir tentang hal yang negatif, buruk, jelek, dan macam-macam konotasi yang pada intinya berarti bukan ideal. Misalnya, adanya ungkapan Jawa: isuk dhele sore tempe (pagi kedelai sorenya tempe), yang artinya menunjuk pada orang yang mudah berubah pendirian. Sering juga kita dengar ungkapan mental tempe, otak tempe, juga berbagai-tempe yang lain.

Kalau orang berbicara tentang empat sehat lima sempurna, yang dirujuk sebagai lauk ideal terbanyak adalah daging, ikan, telor. Jarang orang yang meresepkan tempe sebagai makanan ideal.

Terlepas dari image tempe di atas, saya pribadi adalah penggemar tempe. Mulai dari tempe goreng, bacem, bumbu kuning, terik tempe, hingga lethok (sambal tumpang), semua saya suka. Di kota saya, Ngawi, terdapat desa tempat industri tempe tumbuh dengan subur, yaitu desa Sadang. Di desa inilah sebagian besar para penduduknya menjadi pengrajin kripik tempe yang menjadi oleh-oleh andalan dari Ngawi.

Baru-baru ini tempe menjadi bahan berita hangat di media massa akibat dari melonjaknya harga kedelai. Banyak pengrajin tempe yang kolaps tidak berproduksi karena mereka takut rugi. Tempe pun turut melonjak harganya. Tempe yang dulunya sudah tidak menjadi idola akankah semakin tenggelam namanya?

Related Posts

Discussion

No comments for “Tempe Naik Daun”

Post a comment

Categories

  • No categories

Links

  • Kumpulan Nama Bayi
  • Friends' links